BELAJAR DARI SEEKOR ANJING

Cerpen hikmah: Belajar dari seekor anjing. Matahari siang itu memang terasa lebih menyengat dari biasanya. Ditambah suasana terminal bis yang cukup padat dan ramai membuat seorang pemuda bernama Sholeh merasa cepat lelah. Ia duduk di teras masjid terminal dan bersandar pada sebuah tiang.

pencari kerja
Ilustrasi pencari kerja
(Gambar dari : gatotart.blogspot.com)

Rasa lelah tampak terlihat di wajahnya, sesekali dia terliat menyeka keringatnya. “Bang Es nya satu”, sahut Sholeh pada seorang tukang es cendol yang mangkal di dekat situ. Dinginnya es cendol sejenak bisa menyejukkan tenggorokannya yang sejak tadi terasa kering dan haus.

“Dari mana Dek? Kok tampak lesu”, kata si penjual es cendol memecah lamunan Sholeh yang sedang menyeruput es nya. “Eh ini Bang, Saya abis nyari kerjaan, tiga tempat saya datangi hari ini, tapi belum beruntung” jawab Sholeh. “Emangnya lulusan apa Dek?”, tanya si Abang kembali. “Saya lulusan SMA Bang, gak nyangka nyari kerja itu segini susahnya” timpal Sholeh. “Sekarang ini nyari kerjaan emang susah, jangankan lulusan SMA, sarjana juga banyak yang jadi pengangguran”, kata si Abang pada Sholeh.

Sholeh memang sudah satu bulan ini mondar mandir keliling kota untuk mencari pekerjaan. Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini sulitnya. Enam tahun sudah Sholeh belajar di sebuah pesantren besar di daerah Jawa Timur, sejak SMP dia sudah tinggal di pesantren. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu, setelah lulus SMA dia memutuskan pulang ke rumahnya.  dan berniat mengamalkan ilmunya. Saat ini dia mengajar anak-anak mengaji selepas maghrib. Namun, sebagai laki-laki dia juga ingin berdiri di atas kaki sendiri. Sebab itulah sudah sebulan belakangan ini dia tidak pernah lelah mencari kerja dari satu tempat ke tempat lainnya. Maklum orangtuanya tidak mampu membiayainya untuk meneruskan ke perguruan tinggi.

Saat ini Allah sedang mengujinya. Apakah ia mampu mengamalkan apa yang telah ia pelajari di pesantren selama bertahun-tahun.Dengan langkah gontai ia pulang ke rumah. Rumahnya memang tidak jauh dari terminal, tapi jika di tempuh dengan jalan kaki bisa memakan waktu lebih dari setengah jam. “Ah aku shalat ashar di rumah saja, aku capek Ya Allah” ujarnya dalam hati. Rupanya kali ini keimanannya benar-benar di uji, padahal tadi dia beristirahat di masjid terminal, namun bukannya shalat, dia hanya beristirahat sejenak sambil minum es kemudian pulang. Padahal sejak di pesantren dulu hingga sekarang dia tidak pernah menunda-nunda shalat. Ketaatannya mulai terkikis dengan ujian yang dialaminya, ketaatannya mulai luntur hanya karena belum Allah perkenankan untuk mendapat pekerjaan.

Dia mengeluh, dia merasa kecewa kenapa Allah membuatnya seperti saat ini. Ditengah perjalanan dia selalu berfikir tentang hal itu. “Ya Allah kenapa Engkau tidak juga memberiku rezeki?, Aku hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang halal untuk membantu orang tuaku yang sudah renta, apa salahku? Mengapa begitu sulit mendapatkan pekerjaaan ini?” Keluhnya dalam hati. Padahal sejak di pesantren dulu gurunya selalu mengingatkan bahwa masalah rezeki itu Allah yang mengatur, bukan kita yang mengatur Allah. Kita hanya berusaha saja dengan maksimal. Mungkin Sholeh lupa dengan perkataan gurunya.

pengemis
Pengemis dan anjing kesayangannya
(Gambar dari: haramkelilingdunia.wordpress.com)

Dalam langkahnya yang gontai ada sesuatu yang membuatnya tertegun kali ini. Dia melihat seorang pengemis tua buta bersama seekor anjing. Nampaknya si anjing ini menjadi penuntun jalan sang kakek saat mengemis. Terlihat dari tali yang dipegang si kakek melingkar pada leher anjingnya. Ditengah cuaca yang panas sang kakek duduk di bawah sebuah pohon besar dipinggir jalan menunggu belas kasihan orang. Dalam keadaan susah ternyata jiwa sosial Sholeh masih ada. Dia mencoba untuk memberi uang pada si kakek pengemis, kemudian dia merogoh saku celananya, “Uangku cuma tinggal empat ribu, sisa membeli es cendol” katanya dalam hati sambil memegang selembar uang dua ribuan dan 2 lembar uang seribuan.

Sekitar sepuluh langkah dari si kakek pengemis Sholeh melihat seorang ibu setengah baya menghampiri si kakek. Sholeh menghentikan langkahnya dan melihat apa yang dilakukan ibu tersebut. Ternyata si ibu memberikan sebungkus nasi pada si kakek. “Ini Kek saya punya nasi bungkus, lumayan buat makan”, kata si Ibu sambil memberikan nasi bungkusnya dengan segelas air mineral. “Terimakasih banyak Bu, saya memang belum makan dari kemaren, semoga mendapat balasan yang berlipat ganda”, ujar si Kakek sembari membuka nasi bungkusnya karena terlihat kelaparan. Ibu yang baik hati itupun pergi meninggalkan si Kakek. Sedangkan Sholeh masih memperhatikan peristiwa yang terjadi di depannya.

Yang membuat Sholeh kaget adalah si Kakek bukannya makan, tapi malah membagi dua makanannya dengan anjing yang selalu menuntunnya. Setengah dari nasi bungkusnya dia letakkan begitu saja di tanah dan dimakan anjingnya, sedangkan sebagian lagi dia bungkus kembali.

Sholeh mendekat dan memberikan uangnya pada kakek tua tersebut. “Kek, ini ada sedikit rezeki” kata Sholeh sambil menyodorkan uangnya. “Terimakasih Dek, semoga mendapat balsan yang berlipat” katanya. “Kek, kenapa nasinya tidak di makan, malah di kasih ke anjjingnya?”, tanya Sholeh penasaran dengan tingkah si Kakek.

pengemis gaul
Pengemis, memohon belas kasih
(Gambar dari: berkah2013.blogspot.com)

“Oh, ini untuk nanti kakek makan di rumah sama nenek, separuhnya kakek kasih ke anjing Kakek karena anjing ini sudah tiga hari tidak dikasih makan”. Jawab si kakek buta.

“Wah kasihan juga ya kek, tapi anjingnya tetap gak pergi ninggalin kakek meskipun kelaparan juga” Kata Sholeh dengan nada sedikit bercanda.

Dengan sedikit tersenyum si kakek berkata “Anjing ini kakek pelihara dari kecil, kakek nemu dia di tempat sampah, meskipun kadang gak dikasih makan sampai berhari-hari karena memang gak ada, tapi dia tetap patuh pada kakek, majikannya, dan gak mau ninggalin kakek, gak pernah terlihat mengeluh anjing kakek ini”.

Jawaban si kakek membuat Sholeh kaget sekaligus merasa malu dengan keluhannya di perjalanan tadi. Dia malu dengan ketaatannya yang berkurang karena belum dikehendaki Allah untuk mendapat pekerjaan.

Hampir saja Sholeh meneteskan air mata mendengar jawaban si kakek, tapi ia masih bisa menahannya. Sholeh bergegas pulang. Dia merasa berdosa karena belum shalat dan juga banyak mengeluh dengan keadaannya. Dalam hatinya dia berkata “Ya Rabb, Engkau menyindirku lewat seekor anjing”

Terima kasih telah membaca artikel tentang cerita belajar ngentot. Apabila artikel ini bermanfaat silakan dibagikan, terima kasih.

Tags: Kisah inspiratif

loading...