KISAH NYATA ULAMA YANG TULI

Kisah nyata ulama yang tuliKisah inspiratif yang satu ini mengandung hikmah yang sangat besar bagi setiap muslim. Ulama yang satu ini mengajarkan bagaimana cara menjaga harga diri orang lain dan tidak membuka aibnya, bahkan lebih dari itu, banyak orang-orang yang mengiranya tuli karena menutupi aib sesama muslim. Kisah sejarah Islam yang satu ini merupakan salah satu kisah Islamic favorit fanind.com dan menjadi motivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

sufi
Kisah Syaikh Hatim Al-‘Asham
(Images sources: theunboundedspirit.com)

Kisah nyata ulama yang tuli ini bernama Syaikh Abdurrahman Hatim Ibn Alwan, beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya, diantara gurunya adalah Syaikh Syaqiq. Syaikh Abdurrahman dikenal dengan julukan Hatim Al-‘Asham yang artinya Hatim si tuli. Julukan ini diperolehnya bukan karena beliau benar-benar tidak bisa mendengar atau tuna rungu, melainkan karena menjaga kehormatan seorang wanita. Selain ulama besar dan juga seorang sufi, Syaikh Hatim Al-‘Asham juga seorang yang lembut, sopan dan juga sangat dermawan.

Kisahnya ini berawal saat suatu hari Syaikh Hatim kedatangan tamu seorang wanita. Maklum, seorang Ulama besar seperti beliau menjadi tempat bertanya bagi umat dalam berbagai urusan, terutama urusan Agama. Setelah masuk rumahnya, wanita yang mau bertanya ini hendak duduk, namun tanpa disangka si wanita kentut dengan suara yang cukup keras. Seketika itu mukanya memerah dan menjadi salah tingkah. Bisa kita bayangkan, jika ada seorang wanita yang bertamu kepada seorang ulama besar dan ulama kharismatik, tiba-tiba kentut dengan suara nyaring?? mungkin dengan tidak sengaja atau keceplosan. OMG.. Betapa malunya, betapa merah mukanya dan mungkin akan tercabik harga dirinya. Kita juga mungkin suka menertawakan teman yang kentut dengan menunjuk mukanya sambil terpingkal-pingkal hehe… ^_^.

Namun apa yang dilakukan Syaikh Hatim ketika seorang wanita baik-baik yang bertamu ke rumahnya kemudian kentut dengan suara yang cukup keras?. Ulama yang mulia ini pura pura tuli, beliau sangat mengerti perasaan wanita, beliau tidak mau membuat malu wanita tersebut. Beliau malah berkata: “Coba bicara lebih keras lagi, saya tidak bisa dengar suara kamu”, saat Syaikh Hatim berpura-pura tuli seperti itu si wanita merasa lega, semua seakan mencair, mukanya yang merah kembali segar. Dalam hatinya ia bergumam “Ternyata Syaikh ini agak tuli”. Setelah itu si wanita berbicara dengan nada yang cukup keras dan Syaikh Hatim berbicara dengan cukup lantang juga.

cadar wanita
Syaikh Hatim menutup aib wanita
(Foto dari: azwaamani.blogspot.com)

Dalam beberapa literatur kitab klasik disebutkan bahwa sejak saat itu Syaikh Hatim dikaruniai Allah kemampuan untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang dalam hati. Setiap orang yang bergumam dalam hati dihadapannya bisa ia dengar. Itulah salah satu karamah Beliau karena menutupi aib seorang muslim. Inilah salah satu amal ikhlas yang mungkin dianggap amal yang sepele. Kisah seperti ini juga pernah saya bahas dalam postingan yang berjudul Cara Agar Disayang Allah dan postingan lainnya yang berjudul 9 Hal Yang Dirahasiakan Allah. Karena amal yang ikhlas walaupun tampak sepele, Allah mengangkat seseorang menjadi wali-Nya.

Sejak peristiwa tersebut, nama Al-‘Asham melekat pada Syaikh Hatim. Wanita itu masih hidup selama 15 tahun sejak peristiwa tersebut, selama itu pula Syaikh Hatim Al-‘Asham berpura-pura tuli demi menjaga kehormatan dan nama baik wanita tersebut. Selama 15 tahun pula tidak ada yang menceritakan pada wanita tersebut bahwa pendengaran Syaikh Hatim sebenarnya normal-normal saja.

Cerita ini juga mulai tersebar setelah si wanita meninggal. Syaikh Hatim menetap cukup lama di kota Baghdad, Irak dan wafat di kota ini tepatnya di daerah Wasyjard dekat Tarmidz pada tahun 237 H atau 852 M. Semoga Beliau selalu dilimpahi rahmat dan maghfirah Allah dan semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah nyata ulama yang tuli, Syaikh Hatim Al-‘Asham.

Siapa menutupi aib saudaranya (sesama muslim), maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat nanti. Dan siapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membongkar aibnya, karena aibnya pula Allah akan membuatnya malu, sehingga dia akan merasa malu di rumahnya sendiri.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Terima kasih telah membaca artikel tentang kisah sedih ulama, kisah ulama sufi. Apabila artikel ini bermanfaat silakan dibagikan, terima kasih.

Tags: Kisah inspiratif kisah nyata

loading...